Mau?

“Maunya apa?”

     Aku menoleh lalu tertegun lama, bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut kekasihku. Sejak sepuluh menit yang lalu kami duduk di meja kantin dan belum berbicara tentang apapun tapi sekarang dia bertanya mauku apa?!
     Jika berbicara tentang apa yang aku mau, tentu saja banyak. Mau? Aku mau dilahirkan kembali dan mengetahui jalan hidupku sendiri. Atau aku mau hilang ingatan dan mengulang seperti lahir kembali. Atau aku mau menentukan jalan hidupku sendiri. Dan sebenarnya itu sama saja. Dan seandainya aku bisa itulah yang aku mau.
     Tapi aku tak mengerti, apa maksud dari pertanyaan si pria jangkung di sebelahku yang mati-matian aku sayangi. Dan berkaitan dengan pertanyaan tadi. Aku mau aku dan si pria ini berjodoh. Hidup bahagia selamanya dan hidup tanpa masalah sekecil apapun. Itu yang aku mau. Tapi lagi-lagi aku memang tak mengerti dengan maksud pertanyaan itu.

   Mau? Mungkin aku tak bisa menyimpulkan apa yang aku mau. Ratusan-ribuan atau bahkan tak terhitung kata mau yang sebenarnya tidak memiliki jawaban. Apa yang aku mau hanya secarik keinginan muluk yang pasti semua orang juga inginkan. Dan hampir semua yang aku inginkan itu belum pasti kenyataannya.
    Tapi yang aku mau saat ini yaa tidak memikirkan apa mauku. Aku tidak mau tahu tentang mau. Ahh apasihh! Lagi-lagi mau. Dan aku cuma mau, MAU? Aku ingin bebas dari pikiran kejauhanku tentang mau.

     “Mau pesan apa?” Katanya lagi.
Dan aku menyesal! Ternyata dari sedemikian jauh pemikiranku tentang mau dia hanya bertanya tentang apa yang mau ku pesan. Sesederhana itukah yang seharusnya aku mau?

The end

Blog Archive

Popular posts